Rabu, 30 Januari 2013

Terima Kasih Tuhan......


Tuhan..
Aku tidak tahu bagaimana
harus mengatakan pada
dunia betapa sulitnya ini..

Tuhan..
Bila waktuku tak lama lagi
aku mohon sisakan
kebahagianku untuk
orang-orang yang ku
sayangi..

Tuhan..
Aku mohon,,
ajarkan aku lebih banyak
lagi tentang arti
kehidupan, agar aku bisa
lebih mencintaiMu dan
orang-orang
disekelilingku..

Tuhan..
aku hanya sangup
bercerita kepadaMu
tentang hidupku
karena aku tahu hanya
Engkau yang mengetahui
segala hal tentangku

Tuhan…
Izinkan ibuku bahagia,
seperti Engkau yang
membahagiakanku ketika
aku lahir di Dunia ini,

Tuhan..
aku orang asing,
aku tidak tahu bagaimana
hidupku
karena itu tuntunlah aku
di jalanMu…

Tuhan..
Terimakasih atas segala
hal yang Engkau berikan
untukku
Tentang hidup dan arti
Kehidupan
Tentang sahabat dan arti
Persahabatan

Tentang semangat dan
arti perjuangan

Tentang kasih sayang
dan arti menyayangi

Tentang kerja keras dan
arti pengorbanan

Terimakasih untuk
semuanya Tuhan…..
Tuhan, kutulis isi hatiku
ini untukMu….
Untuk Kau lihat,
meskipun aku tahu
Engkau telah mengetahui
isi hatiku sebelum aku
menulis semua ini.


By : Koko Priant

Ada Cerita tentang Aku dan Dia dalam Sebuah Kisah Klasik SMA



“Ada cerita tentang aku dan dia, dan kita bersama saat dulu kala”
“Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa”(Semua tetang kita, Peter Pan)


Ketika ditanya tentang kesan seseorang
mengenai masa-masa SMA nya, mungkin kebanyakan jawaban yang timbul adalah :
“Menarik”

“tak terlupakan”,
“wah,,,masa-masa indah…”

dan banyaaak versi ungkapan-ungkapan yang muncul sesuai dengan latar belakang pengalaman dan kisah yang berbeda. Namun semuanya sepakat, bahwa SMA adalah masa-masa yang tak terlupakan. Dan itu memang benar adanya.



Dahulu, ketika langkah- langkah polos kita mulai menapaki rajutan hari- hari di SMA, tak pernah terpikirkan bahwa tiap detik yang kita lalui saat itu, kelak akan menjadi hal-hal yang akan sangat kita rindukan pada 5, 10, 15, atau 20 tahun mendatang. Setiap jengkal kejadian, baik itu kisah sedih, menyenangkan, pahit, manis, memalukan adalah hal-hal yang menarik untuk diceritakan KELAK ketika kita sudah tidak bisa lagi melalui semua penngalaman itu. Siapa sangka, pengalaman ketika dimarahi senior pada saat MOS (Masa Orientasi Siswa) yang sangat membuat kita kesal, sekarang kalau difikir-fikir malah membuat kita tertawa sendiri. Siapa sangka, ketika pikiran polos kita sudah terkontaminasi dengan keinginan bolos, cabut, nyontek, suka membantah perkataanguru, yang ujung-ujungnya adalah Skors, dihukum, kena marah…(ahh, menyakitkan memang), tetapi semua itu sekarang bak sebuah kisah manis yang sangat seru untuk diceritakan,, Atau pengalaman ketika menjadi seorang bintang kelas, aktifis sekolah, ikut berbagai kegiatan dan perlombaan,,,telah meninggalkan seraut kebanggan di memory- memory otak kita. Sebentuk persahabatan sejatipun telah kita bina di indahnya masa-masa SMA.



Temanyang bukan hanya sekedar pelepas tawa, namun juga hadir di kala kita berduka, yang bersedia menyediakan
pundaknya ketika kita butuh sandaran. Bahkan menjadi teman seperjuangan yang turut andil dalam meramaikan jagat kenakalan- kenalakan remaja yang kita lakukan. Bahu membahu ketika cabut,memanjat pagar, merokok di lingkungan sekolah, membuat PR di kelas,ketika ujian, dan lain sebagainya.Kemana lagi akan kita cari sahabat seperti itu selepas masa- masa SMA??? Dan, sekelompok orang tua kedua yang kita panggil dengan sebutan “Bapak” dan “Ibu” GURU itu… Kasih sayang dan jasanya kepada kita sungguh luar biasa. Hmmmm…walaupun terkadangkita mengikuti pelajaran beliau dengan adegan tambahan “terkantuk-kantuk”, diiringirasa bosan, jenuh, bahkan lebih ekstrimnya lagi kita meninggalkan beliau yang dengan kesungguhannya sedang mengajar, untuk sekedar nongkrong di kantin,ngaso di perpus, tidur-tiduran di Mushala, atau nekat pulang ke rumah dan gak balik-balik lagi ke sekolah (sinonimnya CABUT) Jika seorang pemikir ulung mengatakan bahwa ”future is’nt to be found, but to created” mungkin itu benar adanya. Dan tahukah kawan, secara tidak langsung, masa-masa SMA merupakan bagian dan langkah untuk kita mencapai kondisi seperti saat ini. Masa-masa SMA turut berkontribusi untuk menciptakan ”kita” yang seperti ini. Maka patutlah rasanya jika kita mengucapan terimakasih kepada guru, sahabat, semua civitas dari SMA, yang turut andil mewarnai kehidupan kita dengan hitam, putih, merah, birunya dunia. Klise memang, namun begitulah adanya. Sepahit, seburuk, semanis apapun kenangan itu, kenangan tinggalllah kenangan… dan setiap kenangan itu tak kan pernah terulang persis sama seperti dahulu…Namun ada satu teori konsep kenangan yang sepertinya harus kita sepakati,bahwa; kenangan bukanlah untuk dilupakan…Biarkan menjadisebentuk kisah, SEBUAH KISAH KLASIK UNTUK MASA DEPAN… Sebuah kisah klasik yang akan kita ceritakan kepada anak, cucu kita kelak.



***Andai ada satu hariiiiiiiiiiiii saja untukku dapat mengulang kembali indahnya masa SMA, duduk tenang di dalam ruangan kelas, berseragam putih abu-abu, mendengarkan ceramah guru di depan,membuat berbagai tugas, PR, bercanda ria dengan teman, ke kantin bareng, gila-gilaan bareng... Hmmmm....andai itu benar-benar terjadi. Tapi kutahu itu semua hanya mimpi. Tidak mungkin bias benar-benar mengulang kembali... Tuhan, jika memang begitu, jangan hapus memory-memory itu. Biarlah tersimpan abadi di otakku, agar aku bias mereplay ulang kembali semua peristiwa indah itu... Kisah yang terukir indah di bawah naungan acasiaku...
seperti sepenggal lagu Sheila On 7



”Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali, kita berbincang, tentang memory di masa itu,,,Peluk tubuhku, usapkan juga air mataku, kita terharu seakan tiada bertemu lagi. Bersenang- senanglah, karena hari ini yang kan kita rindukan, di hari nanti, sebuah KISAH KLASIK tuk masa depan. Bersenang-senanglah, karena waktu ini yang kan kita banggakan, di hari tua.....Sampai jumpa kawanku..Semoga kita selalu,,Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan....Mungkin diriku, masih ingin bersama kalian, mungkin jiwaku, masih haus sanjungan kalian”(Kisah klasik untuk masadepan”



By : Koko Priant
Edited : Yucha